Meraup Beneficial Knowledge di WEBINAR SAINTEK 2020 UNIMUDA SORONG 👁️️ 595

By Operator Website Jumat, 05 Juni 2020 | 11:38 am Berita

Meraup Beneficial Knowledge di WEBINAR SAINTEK 2020 UNIMUDA SORONG

 
Oleh: Marlina (Guru SMPN 41 MADANI Pekanbaru Riau)
 
     Hari ini, Rabu, 3 Juni 2020, saya merasa beruntung dapat mengikuti WEBINAR SAINTEK 2020 UNIMUDA SORONG. Seminar yang mengusung topik Peran Sains dan Teknologi di Masa Pandemi Covid-19, ini diikuti sekitar 300 zoomers from all over Indonesia. Kebanyakan dari mereka adalah praktisi pendidikan dari Perguruan Tinggi terkemuka di Indonesia. Seminar ini diisi oleh 3 orang nara sumber keren.  Mereka adalah Prof. Dr. Ir. Imam Robandi, M.T. (Sekretaris Dewan Professor ITS), Ir. Eko Taviv Maryanto, M.T. (Dosen Teknik Sipil, Sekretaris BPH UNIMUDA Sorong) dan Dr. Rustamadji, M. Si. (Rektor UNIMUDA Sorong). 
     Seminar yang sedianya dimulai pada pukul 08:00WIB atau pukul 10:00 WIT menjadi molor sekitar 15 menit. Begitu pula dengan penutupan, yang semula direncanakan pada pukul 12:00 WIT tidak dapat terlaksana. Saya yang harus leave the meeting pada pukul 10:12 WIB, karena ada keperluan yang penting, meninggalkan forum yang sedang hangat berkecamuk. Prof. Imam meminta kepada host untuk unmute peserta, karena Beliau ingin menyapa peserta setelah Beliau menjawab beberapa pertanyaan. Ini adalah sebuah seminar yang sukses, meskipun dimulai sedikit terlambat dari waktu yang telah direncanakan. Seminar ini dibuka oleh rektor UNIMUDA Sorong, Dr. Rustamadji, M. Si. yang sekaligus menjadi pemateri pertama dalam seminar ini. Dalam penyampaiannya, Beliau mengatakan bahwa Allah memberi peluang yang sama pada setiap suku untuk meraih bintang. Beliau juga mengatakan bahwa kita harus berbuat baik dan mencegah yang mungkar dalam memimipin agar kita menjadi pemimpin yang besar untuk mencapai tujuan yang besar. Di samping dua hal di atas, Rektor UNIMUDA Sorong ini juga mengharapkan agar insan-insan teknologi tidak hanya menjadi orang cerdas yang hanya berdiri di belakang panggung, tetapi juga mampu menjadi pemimpin yang cerdas.
     Setelah acara pembukaan, acara berikutnya adalah pembacaan ayat Al Quran. Meskipun ini adalah sebuah Webinar, kebiasaan yang baik untuk memulai pekerjaan yang baik dengan pembacaan kalam illahi tidak dilupakan. Muh Izhat Difinubun mengeksekusi tugas ini dengan baik. Setelah itu, pembawa acara, Bu Yusnita La Goa, menyerahkan acara ini kepada moderator, yaitu Bu Nita Indriyani, M.T (Dosen teknik Kimia UNIMUDA Sorong). Haa...sehingga Prof. Imam mengatakan ada dua Nita.
Bu moderator kemudian menyilakan Ir. Eko Tavip Maryanto, M.T, untuk menjadi Pemateri berikutnya. Tema yang digulir adalah Perencanaan Tata Kota dan Bangunan di Era Pandemic. Mr. Eko memulai pemaparan dengan menampilkan dialog dari karikatur yang lucu.
Agus: Nangdi, Mbang?
Bambang: Mancing.
Agus: Ngopo mbalik?
Bambang: Iwake maskeran kabeh.
Hahaa... Dialog ini tentu saja bukan tidak ada berada, karena Pemateri ke dua ini memulai pemaparannya dengan menerangkan Pengertian Covid-19, Gejala yang ditimbulkan virus ini, Cara Pencegahan dan Penularan, Protokol kedatangan di rumah dari bepergian hingga Hikmah di balik Pandemi Covid-19.
      Setelah materi pengantar ini selesai, Mr. Eko menghubungkan bagaimana Dampak Covid-19 terhadap Perancangan Sipil. Covid-19 menyebabkan terjadi beberapa penyesuaian perancangan. Di antara penyesuaian itu adalah penambahan beberapa item pada rancangan, seperti: tempat cuci tangan, penyediaan ruang hijau, taman bermain anak dan tempat kerja ketika kita harus stay at home dan Work From Home. Di samping penyesuaian perancangan, Pembicara juga mengusung konsep Kota Hijau yang berciri ramah lingkungan. Green City ini memiliki 8 aspek yaitu, Green Planning and Design, Green Open Space, Green Waste (reduce, reuse, recycle), Green Transportation, Green Energy, Green Building, Green Water dan Green Community. Ketika konsep ini saya diskusikan dengan seorang teman yang berprofesi sebagai seorang architect yang concern dan sudah lama mengusung konsep ini, Beliau menambahkan 2 aspek lagi yaitu Green think dan Green Act, yang dibungkus oleh Spacial Awareness.
      Pemateri terakhir, The Last but not Least, adalah Prof. Dr. Ir. Imam Robandi, M.T. Beliau mengusung tema New Era of Indonesia. Prof. Imam memulai pemaparan dengan Introduce himself. Beliau memberi judul slide ini dengan My Self Setelah itu, Beliau shows his address in Social media. He shows his WA number, his Fb account and his IG account. Setelah itu, Beliau berbicara tentang Brand of a name. Beliau juga menyinggung tatanan ruang untuk pelaksanaan Webinar karena itu adalah merupakan pencitraan sebuah institusi. Ruang yang baik untuk Webinar adalah ruang yang harus kedap suara, kamera tidak boleh bias, penataan audiovisual harus bagus dan Webinar harus memiliki host yang tertib.
      Kemudian Prof. Imam menggulir An Experience, yang menarik dan sarat makna serta pembelajaran. Beliau bercerita bahwa pada saat pertama kali berada di Okayama, Beliau sakit, kemudian Beliau ke rumah sakit dengan tidak memakai masker. Beliau diberitahu petugas rumah sakit agar memakai masker sehingga tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain. Begitu pula saat Beliau hendak mendaftar di Koyama kindergarten pada tahun 1998, Beliau ditanya oleh guru di situ, apakah dia sehat. Beliau mengatakan bahwa Beliau agak pilek. Guru itu juga mengatakan mengapa Beliau tidak mengenakan masker. Pada waktu itu, TE Arau (mencuci tangan), adalah merupakan hal penting, hingga di depan setiap kelas ada 3 tempat mencuci tangan. Beliau juga mengatakan bahwa parenting adalah hal yang penting, karena itu memintarkan wali murid. Saat Beliau pulang ke Indonesia pada tahun 2002, Beliau mengatakan bahwa hanya Beliau dan keluarga yang merupakan orang yang memakai masker di antrian airport di Denpasar saat itu.
     Prof. Imam menjelaskan bahwa Pandemic Covid-19 adalah Wabah dunia yang kedatangannya tidak kita duga sehingga kita sangat tidak siap menghadapinya. Semua kita mengalami wabah ini meskipun kita memaknai wabah ini dengan berbeda. Beliau mengatakan ada 5 connected points ketika pandemic ini terjadi, yaitu, pemerintah, akademi, industri, masyarakat dan media. Di samping hal-hal yang sudah dijelaskan di atas, Prof. Imam mengatakan akan terjadi banyak perubahan. Di antara perubahan itu adalah Covid-19 pandemic ini membuat kita menjadi manusia dengan banyak keterbatasan dengan kesiapan yang tidak memadai. Kita tidak mempunyai pilihan, kecuali harus melakukan. Tidak ada pedoman yang dapat diambil menjadi acuan. Kita hanya dapat menunggu sembari menyaksikan ketidakpatuhan. Inilah potret bangsa ini.
      Untuk selanjutnya di masa depan (Future), Prof. Imam mengatakan bahwa budaya akan berubah, demikian pula dengan sistem pendidikan. Tidak hanya itu, ketertiban hidup juga akan berubah. Kita akan menjadi pribadi yang lebih invidualis. Prof. Imam menerangkan akan terjadi pergeseran ekonomi dan akan timbul masalah sosial. Pandemic ini juga membuat kita semakin mengasah diri untuk menguasai teknologi di samping akan terjadi perubahan dalam memaknai kehidupan beragama. Subhanallah...! Ini sungguh suatu hal yang tidak pernah kita bayangkan.
     Prof. Imam juga menyinggung bahwa university adalah sebuah pusat peradaban. Ini adalah tempat untuk membangun academic atmosphere. Prof. Imam menutup pemaparannya dengan mengatakan bahwa kehidupan nanti akan berbasis teknologi. Teknologi akan menjadi milik semua orang. Teknologi ini harus ditaklukkan. Lakukanlah percepatan penguasaan teknologi baru dengan tidak meninggalkan keadaban dalam teknologi.Sungguh.. Waktu 2 jam berlalu tanpa terasa ketika saya mengikuti Webinar ini. It's  really important and valuable. I get very beneficial knowledge from joining it. What a Webinar!
 

By Operator Website Jumat, 05 Juni 2020 | 11:38 am